#1
Negara
“Nanti kirim
alamat emailnya ya ke sms. Biar saya kirimin presentasinya..”
“Oke..”
Beberapa menit kemudian, message diterima.
Alay narsis, gumamku dalam hati. Setelah mengirimkan pesan
dari email google, muncul id nama Derry Artha Negara di friend list google mail.
Hm, Negara? Itu nama aslinya? Pertanyaanku melambung kosong ke udara.
#2
Uluran tangan sampai hati
“Butuh bantuan ngga?”
“Hm.. ya.. boleh”
Percakapan itu
pendek. Tanpa ada maksud apapun. Sekedar ingin membantu melangkah, tangannya
pun mengulur tulus.
Aku tidak
menatapnya, tidak pula menengadahkan kepala untuk sekedar memberinya isyarat
apapun. Tanganku hanya mengulur, menyerahkan tumpuanku pada genggamannya untuk
dapat memindahkan kaki yang terhalang barang - barang.
Dan dentum aneh
itu pun terasa. Degup itu halus tapi terasa seperti arrhythmia.
Tuhan, ini apa?
Ucapku dalam hati.
Tentu saja,
Tuhan pun tidak langsung serta merta menjawabnya.
#2
Canda yang didengar Tuhan
“Itu yang di
luar sodaranya?”
“Haah? Bukan.
Itu partner beda perusahaan, Bu.. Hehe”
“Oh, kirain
sodaranya. Tapi mirip loh, cocok! Yaaa, mungkin aja kan jodoh.. Hihi”
“… Hahahahaa…. “
Tawaku lepas
bersama tawa ibu – ibu perawat serta bidan yang berada dalam ruangan.
Tuhan, terdengar
kah? :)
#3
Bungkam romantis
Bicaranya tidak
berhenti. Siapapun dihadapannya, apapun jabatannya, bagaimanapun rupanya, ia
tidak akan segan membagi tawa dan gurau.
Berbicaralah.
Tertawalah. Itu kebiasaannya. Sampai aku lelah menanggapinya. Antusiasmenya.
Dan aku memilih mengulurkan tangan untuk membungkam mulutnya. Ayolah, diam kamu, begitu artinya.
Ya, dia diam
beberapa saat. Merelakan diri untuk hening dalam bungkam tanganku. Yang
kemudian ditarik olehnya. Digenggamnya selama beberapa detik. Kemudian lepas
tanpa wacana lanjutan.
Ada yang tidak
biasa.
Aku?
#4
Eratnya genggaman
Aku tidak tahu
kita ini apa. Atau kita ini kenapa. Yang ku tahu, kupu – kupu itu tak pernah
berhenti menari di perutku saat tanganku kamu genggam. Tangan itu tidak kekar,
tapi kuat. Lembut tapi berwibawa. Dan aku tidak pernah bosan menyelipkan
jemariku diantaranya.
Walau rasanya
seperti hanya sedang bermimpi. Mimpi yang terlalu indah.
#5
Aku seorang stalker ulung
Umh, nah.
Aku hanya
perempuan yang memiliki terlalu banyak waktu luang. Sampai – sampai punya
pikiran iseng untuk membuka google dan menuliskan Derry Artha Negara dalam
kolom search. Aku mencarinya begitu saja dan mengenalnya melalui itu.
Nessa Artha
Negara. Yes, there’s someone else who have Artha Negara as her last name. Ah,
she must be his girlfriend, I thought. Then I smile.
I saw he also
has a facebook with a cute pose as his profile picture. Dan entah kenapa,
melihat fotonya yang di latar belakangi dengan patung award yang mirip salib,
serta cara dia berdoa sebelum makan saat pertama kali bekerja sama, aku mengira
keyakinannya berbeda denganku. Sambil bilang “thank God” dalam hati, lagi –
lagi aku tersenyum.
Tuhan, ini apa?
Ucapku lagi dalam hati.
Lagi – lagi,
Tuhan pun tidak serta merta menjawabnya. ah, Tuhan ini.
#6
Padahal Cuma nasi
“kenapa? Kenyang
ya?”
“hehehehe iyaaa…
mau nasi gw yayayaa..”
“iyaaa,,
ehehhee”
Nasi putih dari piringku pun kupindahkan ke piringnya. Sama dengan perasaanku yang
ikut kupindahkan, sengaja atau tidak sengaja. Sepertinya, ke kamu.
#7
Seribu cara jadi anak nongkrong
“lo ngga
ngantuk?’
“ngantuk sih
sedikit..”
“jadi mau
nongkrong di pinggir kolam dulu atau engga?”
“iya hayu,, ya
udah ketemu di depan. Gw ganti baju dulu..”
“okey..”
“eh tapi..”
“kenapa?”
“Gw,, boleh
pinjem jaket lo? Kayanya gw ga bawa baju luaran lagi, tinggal baju tidur doang
sama baju rapih buat besok pagi. hehe.”
“Oh, iya ini ga
papa. Pake aja.. nih”
“Oke, gw ganti
dulu ya..”
“Sip, nanti gw
ketok kamar lo”
Jaket itu kuterima
sambil senyum. Iya, senyum tablo.
#8
Celoteh malam sebelum tidur pagi
- Perjuangan
hidup
“Gw
besar di Jakarta bareng adek gw. Bokap nyokap sama adek yang paling kecil
tinggal di Palembang. Gw ngekos disini. Jeleknya gw, gw ga bisa kalo tidur ga
pake ac. Jadi aja kosannya rada mahal. Bayarnya rada setengah mampus.. hihihi”
“Gw
doyan banget maen game. Sampe – sampe laptop di kosan gw ga pernah mati karena
selalu gw pake buat maen. Adek gw juga gitu. Dulu waktu bokap nyokap sempet
rada lama ga ngirimin uang, gw mulai bisnis dari game. Gw maenin gamenya kaya
orang gila, ngga tidur buat menangin item – item bagus di game ataupun tanding
di game. Dari situ gw bisa dapet duit. Alhamdulillah bisa nyambung idup waktu
bokap nyokap lagi ga bisa transfer”
“Selain
harus mikirin buat nyambung hidup, gw juga perlu mikirin gimana caranya gw
bayar uang kuliah. Karena ada beberapa bulan bokap nyokap gw ga transfer, ga
tau deh kenapa. Kayanya sih waktu emang lagi sulit – sulitnya banget..
kebetulan ada beberapa junior yang minta bantuin bikinin KTI, terus mereka
ngasi gw upah deh buat itu. Dari mereka – mereka juga gw jadi bisa ikut
wisuda.. hehehe..”
“Gw
bisa masak. Selama di jkt, dulu gw sama adik gw lebih banyak stok indomie. Semenjak
ada temen cewe gw ikutan numpang, mereka jadi sering stok bahan makanan
dan gw kebagian masakin makanan buat
mereka. Ga tau sih enak apa ngga. Tapi kayanya selalu abis tuh kalo gw masak.
Ahahha”
- Pacar
“Lo
punya cewe?”
“Haha..
engga punya, ga sempet bu.. keluar kota melulu kan sekarang”
“Oiya
ya.. ahhaha..”
Titik.
- Pelajaran
pas kuliah
“Lo
gimana, repot ngga belajar di sekolah Muhammadiyah?”
“Engga
tuh.. ga terlalu susah juga ke gwnya..”
“Lah,
emang lo ga repot kalo lagi ada pelajaran bahasa Arab?”
“Engga,
kan tinggal baca doang.. baca doang mah masih bisa.. ehhehee”
“Oo
bisa ya.. hihihii “
#9
Pria muslim itu adalah pria yang pergi
shalat Jumat
Hari ini hari
jum’at. Ya, semua pria muslim harus berangkat shalat jum’at. Begitupun customer
yang sedang aku tunggu kedatangannya. Beliau belum bisa datang menemuiku karena
harus shalat jumat. Laporan ke Sang Maha Hebat, Sang Pemberi Senyum dan Sang
Pengatur Hari. Hari kesukaanku, jumat. :)
“Eh, gw titip
tas dulu ya..”
“Oo.. oke, mau
kemana emang lo?”
“Gw mau sholat
jumat.. Tapi belum tau mesjidnya dimana..”
Degup halus dalam hatiku
muncul lagi.
“…… elo..
sholat?”
“Iya lah gw
sholat, emang kenapa?”
Aku terpana
didepannya. Masih tidak percaya, kuulangi lagi pertanyaan itu.
“Elo.. Islam?”
“Ya ampun,
iyalah. Emang lo kira gw apaan? Haha, ya udah ntar terusin lagi, gw cabut dulu
ya.. takut telat. Soalnya ga tau kalo disini jumatannya jam berapa..”
“…Errh, Oke..”
Jawabanku pasti
terdengar seperti orang yang siap pingsan di tempat. Mampus gw, mampus, pikirku
dalam hati. Arrythmia muncul, denial
dalam hati pun hancur berantakan.
Lagi – lagi aku
bertanya, Tuhan, ini apa? Setelah arrhythmia, rasanya kali ini ada kupu –
kupu yang menari di perut.
#10
Bahu gratisan
Saat itu sedang menunggu boarding. Aku tidak ingat berapa lama ia berkomunikasi dengan temannya via hp. Yang ku tahu, mataku terasa berat luar biasa. Samar masih ku dengar ia sibuk menanggapi teman bicaranya "iya itu masukkin aja produk yang itu.." "iya nanti gw coba cariin tempat yg lebih enak.." "Bla.. Bla.. Bla.." Bzzzz, dasar tukang kecap, sebutanku untuk teman - teman yang berprofesi sales. Seolah ocehannya seperti dongeng sebelum tidur, kesadaranku pun mulai menurun dan aku tertidur pulas sambil duduk. Boo.. Keboo...
Kira - kira 15 menit kemudian, aku terbangun dengan leher yang luar biasa pegal. Ah, dasar bodoh, sudah tahu punya masalah dengan otot dan saraf leher, bisa - bisanya memaksa tidur sambil duduk. Alhasil, leher pun sakit luar biasa.
Saat kubuka mata, ia sudah siap memegang jaketnya untuk menyelimutiku. Jaket yang mulai kusukai sejak pertama bertemu dengannya.
"Tadi mau nyelimutin langsung takutnya kebangun. Jadi nunggu bangun dulu aja baru diselimutin beneran. Kasian soalnya keliatannya cape.. Oiya, nyender di bahu gw aja sini, kasian lehernya pasti cape.."
Aku menurut. Manggut sambil merebahkan kepalaku di bahunya.
Aku tidak bilang
bahwa bahu itu adalah bantal paling nyaman yang pernah aku pakai untuk tidur.
Tapi sungguh, bahu itu adalah bahu terindah yang pernah orang tawarkan padaku.
Bahu itu adalah bahu tergagah yang paling manis menopang lelahku. Lelah apa?
Aku tidak memastikannya. Hanya membiarkan semuanya bersandar disana begitu
saja. Iya, bahu gratisan.
Tuhan, jika bahu
gratis ini hanya ada dalam mimpi, jangan biarkan aku bangun dulu ya. Plis ieu
mah euy. Hehe.
#11
Tidak percaya bahagia dapat diperbaharui
Apapun ini,
bagaimanapun ini, aku tidak terlalu
peduli. Pun tidak berani memikirkannya terlalu jauh.
Ingat lingkaran
hitam symbol pengikat. Ingat isi hati yang berontak setelah diijinkan
bergenggaman dengan nafas yang lebih membara. Ingat kupu – kupu yang menari
sangat lincah di dalam perut tanpa bisa memberi tahu kenapa ia sangat bersuka cita.
Perpisahan itu
mengheningkan isi semuanya. Sedihnya, bahagianya, sukacitanya. Aku memilih
mematikan rasa dan tetap menjadi irina. Yang baik – baik saja.Yang tidak ambil
pusing pada apa yang baru terjadi di hadapan mata. Meskipun itu Derry Artha
Negara. J
Sampai
pertanyaan itu datang. Dan pesan singkat itu aku dapatkan.
“Dari kapan ya?”
Nah, kan.
#12
Salam pisah untuk pertemuan yang baru
Setiap
pertemuan, pasti ada perpisahan. Kupikir Tapi yang kuingat, komunikasi itu tak
lagi berjeda. Ada aku kamu yang tidak lagi terasa asing di telinga. Ada yang
menghubungkan, ada yang menarik hati dan pikiran untuk terus menjaga alur
bicara. Tidak ingin putus saat tengah hari atau tengah malam. Meskipun tak bisa
kuingat lagi parasnya dengan baik. Ya, ingatanku pendek. Hehehe
Ingin bertemu
lagi. Ingin mengulang lagi.
Ah, tamaknya aku
ini. Bolehkan Tuhan? Bolehkah setamak ini?
Message received.
‘Serius
banget sih mukanya di depan atm.’
Aku menengok ke
kanan kiri untuk mencari wajah yang sudah hampir aku lupa. Tidak bisa
memastikan tingginya, arah rambutnya, senyum
isengnya sampai gerak – gerik jenakanya. Ya, aku hampir lupa.
Sampai kulihat
wajahnya saat sedang bersembunyi sambil mengintip lucu. Kupastikan tingginya,
kupastikan arah rambut barunya, kupastikan senyum isengnya dan kupastikan gerak gerik jenakanya
ketika ia menghampiriku. Ya, itu dia. Masih orang yang sama. Derry Artha
Negara.
Kami bertemu
lagi. Meski hatiku belum sepenuhnya pasti, tapi aku tahu mauku pasti. Aku mau
kamu.
Tuhan, tolong
dengar mauku yang satu ini ya. Yayaya?
#13
Sujud Ashar pertama
"Maafin aku ya, aku mungkin belum mampu ngimamin magrib atau subuh kamu. Tapi aku janji secepatnya, aku bisa ngelakuin itu. Jadi sekarang Ashar dulu ya yang aku imamin, ya sayang?"
Aku tersenyum gemas karena melihat wajah membujuknya yang begitu serius. Aku tidak pernah berani memaksanya langsung untuk hal yang satu ini. Ada yang pernah bilang kalau pembelajaran mengenai keyakinan seseorang itu tidak pernah bisa dipaksakan. Terutama agama, yang notabene merupakan urusan individu dengan Tuhannya sendiri.
Tapi, wanita mana sih yang ngga kepingin diimami sama laki - lakinya? Mudah - mudahan kamu tau, aku bukan salah satu diantaranya. :)
#14
Cantiknya kamu
Aku pernah
merasa tidak cantik cukup lama. Entah mungkin karena aku yang tidak lagi peduli bagaimana harus menjadi cantik.
Sampai kamu datang dan selalu membuatku merasa cantik.
“selamat makan,
cantik.”
“jangan lupa
sholat ya, cantik.”
“selamat tidur,
cantik.”
“I love you,
cantik.”
"Senyum ya cantik, karena aku sayang kamu."
Ya, aku tersenyum, lebih
sering dari sebelumnya. Kamu salah satu isi senyumku. Senyumku karena cintamu. Negara.
Doa demi doa
mulai kupanjatkan dengan lebih khusyuk. Aku harap, aku tidak terlihat tamak dihadapan
Tuhan karena begitu menginginkanmu. Aku berharap, pintaku agar kamu jadi imam
dalam sujud dan bangunku tidak muluk. Iya, aku belum bosan mengatakannya. Aku mau
kamu.
Orang yang itu, Tuhan. Boleh ya? :)